Indonesia berduka ketika salah satu pengusaha sukses indonesia menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya pada tanggal 19 januari 2015. beliau adalah bob sadino, pengusaha nyentrik yang sukses dengan agrobisnisnya ini. Sebagai salah orang yang ngefans sama om bob tentu kabar ini cukup mengagetkan. meskipun fakta berbicara bahwa beliau sudah kepala 8 tapi saya beberapa bulan yang lalu beliau masih aktif sebagai pembicara di berbagai acara. memang jika Yang Diatas sudah berkehendak manusia tidak bisa bebuat banyak. bob sadino di mata saya bukan hanya pengusaha yang terkenal nyentrik tetapi beliau juga adalah orang aneh yang pemikiran melawan arus. kenapa? salah satu contohnya adalah pernyataan dia bahwa ia menjalankan tidak menghindari resiko melainkan dia adalah tipe orang yang mencari resiko atau pemburu resiko. untuk mengenang lebih dalam pemikiran nyeleneh om bob maka saya tuliskan wawancara dari buku yang berjudul Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah penulis Edy Zaqeus.
Sukses bagi seorang entrepreneur sejati seperti bob sadino,
ternyata begitu sederhana. “kalau saya mengharapkan besok saya bisa makan, dan
besok saya dapat makan, saya sudah sukses” ungkpa bos kemchicks group ini. Ia
bilang, banyak orang yang tidak memahami arti sepiring nasi. Makan dianggap
sebagai kewajaran jika orang tidak punya masalah untuk mendapatkan makanan.
Tapi bagi orang yang pernah lapar pernah tidak makan, sepiring nasi mempunyai
arti yang sangat besar dan sangat mendalam. “mungkin titk berangkat saya itu
membuat saya seperti ini” tutur bob, yang pernah jadi sopir taksi dan nguli di
Jakarta dengan upah Rp 100 per hari.
Bob yang lulus sma tahun 1953 itu mengkritik keras
kecenderungan para yang malas mendidik sendiri anak-anaknya. Para orang tua itu
melepaskan tanggung jawab mendidik anak dan seenaknya membebankan tugas itu
kepada sekolah. Akhirnya, sering mereka memaksakan kehendak pada anak-anak
dalam hal memilih jenis penddikan . padahal, kata pengusaha gaek yang pernah
ikut-ikutan temannya kuiah di fakultas hukum UI ini, semua anak bebas
menentukan pilihan. Namun, itulah egoisnya orang tua. Tanpa sadar mereka sedang
memperkosa pikiran anak-anaknya
Bagi bob, keteladanan sangat bermakna untuk membangun mental
seseorang “bukan dengan memicu dan memacu, karena banyak orang tidak mau dipicu
dan dipacu” tegas bob. Ia mengaku sangat keras dalam mendidik
anak-anaknya, tetapi juga memberi
pilihan sebebas-bebasnya. Disiplin harus ditegakkan tapi kemandirian juga harus
ditumbuhkan. Itulah semangat bob dalam menggerakkan karyawannya yang sudah
dianggap seperti anaknya sendiri.
Teramat sayang jika orang kaya hanya mengingat bob sadino
sebagai pengusaha nyentrik, yan kemana-man pakai celana pendek. Makin digali,
makin ketemulah sosoknya sebagai seorang “master kehidupan”, bahasanya
bernuansa sufuristik. Ungkapan-ungkapan yang sederhana,lugas dan provokatif
namun kaya akan makna itu menjadikannnya bak seorang “Guru Zen” dalam hal
bisnis.
“saya ini seperti gitar tua diatas meja, apakah saya bisa mengalunkan irama yang indah
atau buruk,tergantung siapa yang memetiknya” ungkap bob saat didesak untuk
mengeluarkan seluruh ilmunya. Atau,kalau pikiran ini kita umpamakan sebuah
cangkir teh, maka kita tak akan perah bisa mengenal “tehnya” bob sadino, jika
kita tidak mengosongkan cangkir kita terlebih dahulu.
Modal sering menjadi
hambatan bagi yang ingin berwirausaha, Pandangan anda?
Rata-rata kalau orang bicara modal, langsung otaknya bilang
duit.orang yang lebih canggih lagi, kalau bukan duit ya benda-benda seperti
cangkul, pikulan , atau becak. Itu modal yang bisa diliat,dipegang, dirasakan. Modal tangible. ada
modal yang tidak bisa dilihat,dirasakan, dipergang. Umpamanya modal keberanian,
kemauan, tekad. Saya pribadi, dari mana mulainya? Ya, dari yang tidak kelihatan
tadi.
soal keberanian
mengambil resiko, itu jika berdasarkan pada perehitungan bahwa risikonya
terlalu besar. Komentar Anda?
Karena saya berangkat tanpa perhitungan apa-apa. Bagaimana
saya mau menghitung kalau duit saja tidak ada?. Modal saya haya kemauan, tapi
saya punya kaki punya tangan, terus saya melangkah, saya berbuat.
Apa cukup mengandalkan
keberanian ambiil risiko saja ?
Salah satunya iya.
Kalau orang-orang menghindari risiko, saya masuk kategori orang yang mencari risiko.
Masa bodoh akibatnya, yang saya cari itu risiko. Silahkan terjembahkan…….
Perbahkah mengalami
kegagalan usaha?
Ini pertanyaan yang sangat lucu…kegagalan itu sudah termasuk
dalam usaha. Cari risiko berarti cari kegagalan, kan? Berusaha itu modalnya bukan
duit. Duit itu yang keseratus kali!!!!
soal mental
kewirausahaan di masyarakat kita?
Rata-rata orang Indonesia masih berpikir jadi pegawai saja.
Termasuk mereka yang sudah selesai sekolah, sarjan-sarjana itu. Kebanyakan
orang tidak mau dipicu dan dipacu mental kewirausahaanya. Karena tidak mau, ya
pendekatannya berbeda, keteladanan saja. Kalau orang melihat anda berhasil anda
hanya bisa berharap orang lain mengikuti jejak anda. Memangya kita bisa maksa
orang? Kamu mau nggak dipaksa? “kamu besok berhenti jadi wartawan, kamu ikuti
jajak saya, mau nggak kamu?
Konon dalam usaha
diperlukan naluri bisnis, insting, atau feeling, anda sendiri?
Dari pengalaman saya, saya tidak mengatakan bahwa insting
atau feeling itu faktor. Mungkin ada, mungkin!. Tapi itu kan sesuatu yang tidak
ada jaminannya? Yang orang katakana feeling bagi saya, sebenarnya adalah karena
saya sudah melangkah 999 langkah. Maka, langkah saya yang ke-1000 itu, yang
sebetulnya langkah beriutnya, itulah yang dikatakan orang insting atau feeling.
Kalau soal hoki atau keberuntungan?
Berapa persen orang yang bisa menyandarkan diri dan
mengandalkan sebuah sukse dari fakrtor hoki? Kenapa nggak dilaksanakan saja,
dijalankan saja? Mungkin hoki datang sejajar dengan itu, dengan sendirinya.
Kalau orang sejak awal percaya dirinya tidak akan berhasil,maka seumur hidupnya
dia tidak akan pernah berhasil.
Bagaimana dengan
leadership?
Kalau saya definisinya gak bisa jawab. Kalau ditanya
hasilnya, saya punya 1.600 orang anak-anak. Mereka itu anak-anak saya bapaknya, itu saja! Nggak pakai resep. Mereka mbututi
saya kok. Jika kamu belum menikah belum punya istri, belum punya anak , maka
apa pun yang saya terangkan tentang ‘bapak’, kamu tidak akan mengerti. Itupun
sudah merupakan jawaban!






